Langsung ke konten utama

Tendangan Terakhir

Jika seorang bawahan ditekan atasan ia akan ganti menekan bawahan. Jika bawahan ini tak lagi punya bawahan ia akan pulang dan mengomeli istrinya. Jika ia adalah jenis suami takut istri, bisa-bisa akan menendang kucingnya. Ada kucing yang kebagian menerima tendangan terakhir semacam ini, tanpa hewan ini mengerti apa gerangan yang sedang terjadi. Kita sebut saja urut-urutan tekanan ini sebagai pola arisan.
Maka marilah melacak asal-usul tendangan ini. Itulah tendangan yang berasal dari ketertekanan hati yang bisa datang dari banyak sisi. Setiap hidup berjalan maju, ia akan punya sisi baru. Dari sisi yang baru itu pula akan muncul tekanan baru. Artinya, tekanan itu akan selalu ada kucing yang ditendangi.

Kemarahan dan keterkanan hati itu, sesungguhnya hanya perlu dikelola relatif dengan cara sederhana. Obati saja dengan obat-0bat yang tersedia. Karena ada barang remeh di dunia. Yang ada hanyalah soal soal yang belum kita tahu apa maknanya.

Modal berpikir mula saya rasa sebagai tekanan, itu mulai saya lihat derngan cara bereda. Ada yang terasa sebagai irama hidup saja, ada gembira ada sedih, ada duduk ada berdiri. Pada level ini memang masih terasa beratnya berdiri dan enaknya duduk. Gembiranya senang dan susahnya sedih.

Tapi ada juga level kedua, yakni ketika duduk dan berdiri malah terasa sebagai senam pagi saja. Seperti layaknya orang hendak bersenam, ada rasa berat dan malas pada awalnya, tetapi toh kita lakukan juga karena mulai percaya pada hasilnya. Hasil akhir dari sebuah senam selalu berarti makan dengan lahap dan kesegaran tubuh yang nyata.

Padahal masih ada level yang ketiga yakni ketika duduk dan berdiri sudah terasa sama saja. Bukan dari aspek rasanya, tetapi dari aspek keyakinana kita. Soal rasa, sebetulnya bisa tetap belaka. Sedih tetap sedih, senang tetap senang. Tetapi level ketiga ini sudah dilengkapi dengan kemampuan tidak merasa apa yang sedang dirasa dan merasa apa yang sedang tidak dirasa.

Dari mana tiga keadaan ini akan kita dapatkan? Dari latihan yang dekat-dekat saja, sedekat kita menemukan buah mengkudu, rumput ilalang dan hewan undur-undurnya, tanpa Anda repot-repot mencarinya sebagai anggap tidak ada.
(priegs.blogspot.com)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wakil Rakyat Memang Harus Berantem

Sungguh senang saya melihat wakil rakyat berantem. Kesenangan ini berdasar pada dua hal. Pertama, para wakil itu telah dibayar mahal untuk pekerjaannya. Untuk mengirim mereka ke kursinya yang sekarang, rakyat telah lebih dahulu berantem, tombok, dan bertaruh jiwa raga. Jadi, soal berantem mestinya memang bukan urusan rakyat lagi, biar para wakilnya yang mewakili. Berantem di tingkat rakyat akan menelan lebih banyak ongkos. Berantem model perwakilan pasti lebih irit, lebih sedikit menelan korban. Kedua, demi kepentingan rakyat, wakil rakyat memang harus berantem, bukan cuma secara ide, tetapi kalau perlu dalam pengertian sesungguhnya. Tak perlu risau pada anggapan apakah adu jotos adalah gambaran primitivisme, keliaran, dan kebelumdewasaan. Kepentingan rakyat tak cuma perlu dibela dengan berantem, kalau perlu dengan nyawa. Para wakil rakyat yang tidak berani mati demi rakyat tak perlu dipilih. Untuk apa wakil rakyat terlihat rukun jika kerukunan itu tak bermanfaat bagi rakyat. Apa kit...

Meninggalkan Derajat Hewani

Dulkamdi ngelamun panjang, sampai tak karuan. Betapa tidak? Sapi yang ia pelihara sejak setahun yang lalu, kini harganya tetap sama saja, gara-gara menjamurnya daging sapi import dari luar negri. Produk dalam negri anjlok lagi, sehingga harga sapi untuk ritual qurban sangat murah. “Kamu mestinya bersyukur Dul, banyak orang yang berqurban berduyun-duyun. Alias dengan rombongan,,,,” tegur Pardi. “Maksudmu?” “Lah iya, kalau orang berqurban sapi kan bisa dinaiki tujuh orang. Nah, sekarang harga sapi murah, berarti kamu turut menolong banyak ummat Dul.” “Ya, tapi….?” “Tapi? Tidak ada tapi-tapian Dul.” Dulkamdi terdiam. Kang Saleh hanya senyum-senyum. Ada terbesit wajah gembira di raut mukanya. “Idul Adha ini sampean qurban sapi juga Kang?” “Kalau perlu semua binatang kita qurbankan Di. Nggak bisa kambing, ayam juga boleh, burung juga boleh. Telor juga boleh….” Dua sahabat kaget bukan main atas ucapan Kang Saleh. “Masa qurban selain kambing dan sapi, kerbau, boleh Kang?” ...

Ketika Aku Melihat Resluitingmu Terbuka

Marilah kita berdoa untuk dilindungi dari penyakit lupa. Tidak ada yang keliru dari seorang yang terlupa, maka mari kita percaya bahwa kepada lupa pasti tidak dibebankan dosa. Tapi berdosa atau tidak, lupa adalah penyakit berbahaya karena risiko yang ditimbulkannya. Ada begitu banyak persoalan hidup yang menjadi begitu buruk keadaannya cuma karena lupa. Seseorang yang lupa membawa kunci mobilnya tetapi sudah keburu mengunci pintunya, sering harus mengalami soal-soal dramatis yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Seluruh acara penting seharian bisa rusak berantakan. Rencana pertemuan bisnis, makan siang dengan keluarga atau menjamu kolega, bisa cuma digantikan dengan sekadar muter-muter mencari tukang kunci. Seseorang yang ke kantor, suami-istri yang sama-sama bekerja, amat sering menderita lupa jenis ini: ia pergi sambil masih meninggalkan api. Di rumah kompor lupa dimatikan. Ada pasangan yang sama-sama pelupanya, sehingga tabiatnya telah dihafali tetangga. Jika ia berangkat denga...