Selasa, 08 Maret 2011

PaidToClick (Klik Iklan Dapat Duit)

PaidToClick.In adalah situs penyelenggara program bisnis online gratis yang biasa dikenal dengan Paid To Click (PTC). Situs PaidToClick.in akan membayar Anda hanya untuk klik/lihat iklan selama kurang lebih 30 detik.
Kelebihan situs PaidToClick.in ini adalah jumlah iklan yang bisa diklik sebanyak hingga 60 iklan per hari dan nilai minimum PayOut (menarik komisi) juga sangat kecil yaitu hanya $ 0.02 untuk member standar dan $ 0.00 untuk member upgrade, jadi PayOut bisa 2 (dua) hari sekali untuk member standar dan setiap hari untuk member upgrade.
Pembayaran komisi melalui AlertPay dan PayPal dalam waktu kurang dari 24 jam, namun sebaiknya gunakan PayPal saja karena jika menggunakan AlertPay baru bisa PayOut setelah saldo minimum $ 1, jika dengan PayPal hanya butuh saldo minimal $ 0.02. Jika Anda belum punya PayPal, silahkan baca Cara Membuat Rekening PayPal-100% Gratis ini sebagai panduan.
Adapun Cara Daftar dan Menghasilkan Uang dari Situs PaidToClick.In adalah sebagai berikut:

I. CARA DAFTAR DI PAIDTOCLICK.IN
1. Silahkan Klik Disini, untuk membuka halaman PaidToClick.in
2. Klik Register untuk membuka formulir pendaftaran:
* Username: Masukan username Anda (bebas). Username ini nanti digunakan untuk login ke member area Anda;
* Password: Masukan angka atau huruf sebagai Password Anda. Password ini nantinya digunakan bersamaan dengan username untuk masuk ke member area Anda;
* Verify Password: Masukan kembali password Anda dan harus sama dengan password di atas;
* Personal Pin: Masukan No. PIN Anda, misalnya 1234 atau terserah Anda. No. PIN ini nantinya akan ditanyakan lagi pada saat Anda menarik komisi (PayOut);
* Verify Personal Pin: Masukan kembali No. PIN Anda dan harus sama dengan di atas;
* Referrer: Masukan kata Jagad, namun jika kata Jagad sudah tercantum, maka biarkan saja;
* Your Name: Masukan nama Anda;
* Your Email Address: Masukan Email yang masih aktif, karena email tersebut nantinya untuk menerima kode aktifasi yang dikirim oleh PaidToClick.in;
* I accept the Terms of Service: Pilih Yes, I Accept.
3. Setelah semua kolom diisi sesuai pentunjuk di atas, lalu klik Create Account,
4. Silahkan buka email yang Anda daftarkan tadi dan carilah Emai dari PaidToClick.in di Inbox atau pada Folder Spam
5. Klik URL Activation yang ada dalam email tersebut
6. Dengan demikian pendaftaran Anda telah berhasil.

II. CARA MENGHASILKAN UANG DARI PAIDTOCLICK.IN
1. Kunjungi www.PaidToClick.in, lalu klik LOGIN atau Klik Disini
2. Masukan Username dan Password Anda serta Routing Code pada kolom yang disediakan, lalu klik Login
3. Untuk mulai menghasilkan uang dari klik/lihat iklan, silahkan klik pada menu View Ads untuk membuka halaman Daftar Iklan
4. Klik tepat pada Judul Iklan, maka akan terbuka halaman situs baru. Tunggulah selama kurang lebih 30 detik (sambil menunggu proses selesai, Anda boleh membuka halaman baru atau browsing lainnya, selain PaidToClick.in) dan jika proses sudah selesai, silahkan perhatikan pada pojok atas halaman situs akan muncul kode angka/huruf
NB: Jika yang terbuka halaman perhitungan, berarti Anda harus terlebih dahulu menjawab pertanyaan yang diberikan, misalnya pertanyaan seperti ini: 10-2 is =?, Anda harus menandai button angka 8 lalu klik tombol Answer, maka halaman seperti di atas akan terbuka.
5. Perhatikan kode-kode yang muncul pada pojok atas situs tersebut, Anda harus mengklik kode yang sebelah kiri dan kode yang diklik harus sama dengan kode yang ada di sebelah kanan, lalu tunggulah sampai kode-kode tersebut hilang.
6. Anda boleh menutup/close halaman tersebut dan kembalilah ke halaman Daftar Iklan Anda, lalu klik kembali pada judul iklan yang belum diklik (iklan yang sudah diklik jangan diklik lagi karena Anda tidak akan mendapat apa-apa) dan langkah-langkahnya sama dengan di atas serta lakukan sampai semua daftar iklan yang ditampilkan habis;
7. Untuk menambah penghasilan Anda, carilah anggota baru (biasa disebut downline/referral) untuk mendaftar melalui Link Referral Anda, maka Anda akan mendapatkan komisi setiap kali Downline/Referral Anda tersebut melakukan aktifitas klik iklan, tanpa mengurangi bayaran yang diterima oleh Downline/Referral Anda;
8. Cara memperoleh atau menemukan Link Referral, Anda harus sudah Login, lalu klik My Account,
9. Pada posisi tengah halaman, klik pada tulisan Your Referral Link
10. Itulah Link Referral Anda. Jika Anda ingin menautkan link referral tersebut pada sebuah teks/kalimat dalam posting, gunakan URL pada kolom Primary Homepage dan jika ingin memasang dalam bentuk banner, maka gunakan URL pada kolom Promotional Banners;
11. Rekrutlah sebanyak mungkin orang untuk bergabung melalui link referral Anda, caranya cukup mudah diantaranya dengan membuat posting seperti ini (bagi yang sudah punya blog/website) atau pasang iklan ke situs-situs pemasangan iklan yang berbayar atau gratisan;

Demikianlah Cara Daftar dan Menghasilkan Uang dari Situs PaidToClick.In ini, semoga bermanfaat. Untuk informasi yang lebih lengkap silahkan kunjungi halaman forum yang disediakan oleh PaidToClick.In, selamat mencoba dan semoga sukses.

Rabu, 26 Januari 2011

Artav Diminati Dalam dan Luar Negeri

Bandung - Arrival Dwi Sentosa menyimpan potensi yang luar biasa di bidang teknologi anti virus. Produk bocah kelas II SMP asal Bandung ini telah ramai diunduh pengguna baik dalam maupun luar negeri. Saat ditemui detikINET, ia memaparkan saat ini sudah 26.267 kali anti virus yang bernama Artav tersebut di-download pengguna komputer.
Perlu waktu setahun bagi Ival -- sapaan akrabnya -- untuk membuat Artav. Awalnya, Ival memberikan antivirus buatannya kepada teman-temannya dan keluarganya. Mendapatkan respons positif, Ival lalu memberanikan diri untuk memposting antivirus buatannya di Facebook. Begitu diposting di Facebook, respons dari masyarakat cukup bagus.

"Hampir setahun saya membuatnya. Dari kelas 1 sampai kelas 2 sekarang. Awalnya hanya 200-an varian virus. Tapi sekarang sudah hampir 2.000-an varian virus yang ada dalam databasenya," ujar anak yang baru berusia 13 tahun itu.

Berminat mencoba antivirus lokal buatan anak kelas II SMP ini? Langsung unduh saja pada link berikut.
(detik.com)

Wakil Rakyat Memang Harus Berantem

Sungguh senang saya melihat wakil rakyat berantem. Kesenangan ini berdasar pada dua hal. Pertama, para wakil itu telah dibayar mahal untuk pekerjaannya. Untuk mengirim mereka ke kursinya yang sekarang, rakyat telah lebih dahulu berantem, tombok, dan bertaruh jiwa raga. Jadi, soal berantem mestinya memang bukan urusan rakyat lagi, biar para wakilnya yang mewakili. Berantem di tingkat rakyat akan menelan lebih banyak ongkos. Berantem model perwakilan pasti lebih irit, lebih sedikit menelan korban.
Kedua, demi kepentingan rakyat, wakil rakyat memang harus berantem, bukan cuma secara ide, tetapi kalau perlu dalam pengertian sesungguhnya. Tak perlu risau pada anggapan apakah adu jotos adalah gambaran primitivisme, keliaran, dan kebelumdewasaan. Kepentingan rakyat tak cuma perlu dibela dengan berantem, kalau perlu dengan nyawa. Para wakil rakyat yang tidak berani mati demi rakyat tak perlu dipilih.
Untuk apa wakil rakyat terlihat rukun jika kerukunan itu tak bermanfaat bagi rakyat. Apa kita lupa bahwa ada jenis kerukunan yang manipulatif. Rukun untuk saling berdiam diri, untuk berkomplot demi kepentingan mereka sendiri. Kerukunan semacam itu tentu bukan hal baru. Kerukunan itulah yang membuat kerusakan hebat di tingkat bawah.
Wakil rakyat harus tidak pernah bulat dan mufakat, harus tidak sekata. Mengapa? karena, itu tidak mungkin. Kita sedang bicara tentang ratusan kepala manusia, ratusan ide, gagasan, watak, dan pikiran. Hanya orang gila yang mengharap ratusan kepala itu dapat sependapat. Rakyat malah harus curiga jika manusia sebanyak itu dengan gampang dapat berkata ya dan kompak berteriak setuju.
Lembaga itu akan menjadi kuat justru ketika terus berbeda, Gesekan akibat perbedaan memang sakit. Banyak orang tak siap menghadapinya. Akan tetapi, dalam rasa sakit itulah tersimpan kehati-hatian, ketakutan, dan keseimbangan. Jadi, pertengkaran itu sungguh sesuatu yang menyeimbangkan. Jangan kaget, keseimbangan itu malah sering bersembunyi pada suatu yang tampaknya gaduh, tidak bulat, dan tidak mufakat. Jangan pula kaget jika banyak ketidakseimbangan ngumpet di balik kerapian, keharmonisan, kerukunan, dan kebulatan tekad. Indonesia pernah menjadi salah satu contoh. Serba rapi, serba setuju, serba ya, lalu bangkrut.
Sekarang ini biarlah rakyat tidak berpolitik praktis, tidak gontok-gontokan hanya demi membela partai yang belum tentu ganti membelanya kalau dia bangkrut dan jatuh miskin. Rakyat harus beramai-ramai menjadi profesional. Rakyat yang profesional adalah rakyat yang sibuk berproduksi, mengurus kepentingannya sendiri, bukan kepentingan partai, bukan kepentingan orang-orang yang ingin berkuasa, tetapi langsung lupa diri jika ia telah benar-benar berkuasa itu.
Rakyat harus tidak gampang dikompori hanya untuk sekadar mati konyol dalam aneka kampanye dan demonstrasi jalanan. Untuk urusan politik termasuk tawurannya, serahkanlah pada wakil rakyat. Merekalah sesungguhnya pihak yang paling berhak melakukan itu semua, bukan rakyat, pihak yang selalu cuma diperalat dan dijadikan korban ini.
(priegs)

Senin, 24 Januari 2011

Tendangan Terakhir

Jika seorang bawahan ditekan atasan ia akan ganti menekan bawahan. Jika bawahan ini tak lagi punya bawahan ia akan pulang dan mengomeli istrinya. Jika ia adalah jenis suami takut istri, bisa-bisa akan menendang kucingnya. Ada kucing yang kebagian menerima tendangan terakhir semacam ini, tanpa hewan ini mengerti apa gerangan yang sedang terjadi. Kita sebut saja urut-urutan tekanan ini sebagai pola arisan.
Maka marilah melacak asal-usul tendangan ini. Itulah tendangan yang berasal dari ketertekanan hati yang bisa datang dari banyak sisi. Setiap hidup berjalan maju, ia akan punya sisi baru. Dari sisi yang baru itu pula akan muncul tekanan baru. Artinya, tekanan itu akan selalu ada kucing yang ditendangi.

Kemarahan dan keterkanan hati itu, sesungguhnya hanya perlu dikelola relatif dengan cara sederhana. Obati saja dengan obat-0bat yang tersedia. Karena ada barang remeh di dunia. Yang ada hanyalah soal soal yang belum kita tahu apa maknanya.

Modal berpikir mula saya rasa sebagai tekanan, itu mulai saya lihat derngan cara bereda. Ada yang terasa sebagai irama hidup saja, ada gembira ada sedih, ada duduk ada berdiri. Pada level ini memang masih terasa beratnya berdiri dan enaknya duduk. Gembiranya senang dan susahnya sedih.

Tapi ada juga level kedua, yakni ketika duduk dan berdiri malah terasa sebagai senam pagi saja. Seperti layaknya orang hendak bersenam, ada rasa berat dan malas pada awalnya, tetapi toh kita lakukan juga karena mulai percaya pada hasilnya. Hasil akhir dari sebuah senam selalu berarti makan dengan lahap dan kesegaran tubuh yang nyata.

Padahal masih ada level yang ketiga yakni ketika duduk dan berdiri sudah terasa sama saja. Bukan dari aspek rasanya, tetapi dari aspek keyakinana kita. Soal rasa, sebetulnya bisa tetap belaka. Sedih tetap sedih, senang tetap senang. Tetapi level ketiga ini sudah dilengkapi dengan kemampuan tidak merasa apa yang sedang dirasa dan merasa apa yang sedang tidak dirasa.

Dari mana tiga keadaan ini akan kita dapatkan? Dari latihan yang dekat-dekat saja, sedekat kita menemukan buah mengkudu, rumput ilalang dan hewan undur-undurnya, tanpa Anda repot-repot mencarinya sebagai anggap tidak ada.
(priegs.blogspot.com)

Ketika Aku Melihat Resluitingmu Terbuka

Marilah kita berdoa untuk dilindungi dari penyakit lupa. Tidak ada yang keliru dari seorang yang terlupa, maka mari kita percaya bahwa kepada lupa pasti tidak dibebankan dosa. Tapi berdosa atau tidak, lupa adalah penyakit berbahaya karena risiko yang ditimbulkannya. Ada begitu banyak persoalan hidup yang menjadi begitu buruk keadaannya cuma karena lupa.
Seseorang yang lupa membawa kunci mobilnya tetapi sudah keburu mengunci pintunya, sering harus mengalami soal-soal dramatis yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Seluruh acara penting seharian bisa rusak berantakan. Rencana pertemuan bisnis, makan siang dengan keluarga atau menjamu kolega, bisa cuma digantikan dengan sekadar muter-muter mencari tukang kunci.

Seseorang yang ke kantor, suami-istri yang sama-sama bekerja, amat sering menderita lupa jenis ini: ia pergi sambil masih meninggalkan api. Di rumah kompor lupa dimatikan. Ada pasangan yang sama-sama pelupanya, sehingga tabiatnya telah dihafali tetangga. Jika ia berangkat dengan buru-buru dan kembali lagi dengan buru-buru itulah tanda bahwa kompornya masih menyala.

Tapi berangkat untuk kembali lagi untuk kompor yang belum mati ini cuma salah satu skenario dari kita yang punya penyakit serupa. Skenario kedua bisa berupa cukup hanya dengan telepon tetangga. Maka ada seorang tetangga, yang jika teleponnya berdering di jam-jam berangkat kerja, si pengangkat telepon sudah menduga. ''Ini pasti soal kompor lagi!'' katanya. Kadang-kadang ia mengangkat teleponnya sambil geli, kadang tulus, tetapi akhirnya jengkel juga jika kasusnya telah lebih dari dua kali.

Ada pula skenario ketiga, yakni datang dari keluarga pelupa, tetapi perasaannya peka luar biasa. Meskipun kompornya masih menyala dan ia sudah sampai di tempat kerja, ia tetap teguh, ingin pulang sudah tak memungkinan karena kemacetan jalan raya yang begitu jauhnya, untuk menelpon teangga hatinya tak tega. Takut merepotkan. Pilihan sikap semacam ini akhirnya beruntut dua skenario lagi; pertama kompor itu akan mati sendiri karena kehabisan gas, kedua, sebelum gas itu habis, rumahnya lah yang keburu habis.

Seorang lain lagi, yang dalam kelompok pergaulan telah diperlakukan sebagai juragan, sedang bepergian dengan dia menanggung seluruh biaya makan. Sebagai seorang penraktir, ia punya kekuasaan. Serba percaya diri dalam kedudukannya sebagai pemberi. Tetapi segalanya berubah, ketika ia sadar dompetnya ketinggalan. Ia yang berkuasa, tiba-tiba menjadi pihak paling kikir di kelompoknya. Dan betapa menyakitkan, ketika dari seorang juragan akhirnya cuma menjadi tanggungan orang semula cuma para figuran.

Itulah bahaya lupa. Lupa untuk soal-soal yang tampaknya remeh, tetapi betapa dramatik akibatnya, termasuk kelupaan si kawan saya ini, ketika tanpa sadar resluitingnya masih terbuka. Saya melihatnya sejak dari kejauhan. Tepatnya tidak cuma saya, melainkan seluruh orang yang ada di sekitar saya, yang malangnya lengkap ragamnya, ada kelompok bapak, ada kelompok ibu.

Malang yang kedua, ia datang dari jurusan yang keliru, sepi dan sendiri, dan berjalan menuju ke pusat gerombolan. Ia seperti jagoan yang melangkah tenang ke sekumpulan gangster yang meskipun banyak jumlahnya, tapi hanya akan ketakutan kepadanya. Jadi seluruh mata sedang melihat sang jagoan yang percaya diri, tetapi dengan resluiting menganga. Kesialan lanjutannya, lubang celana itu begitu jelasnya, karena ia adalah bapak-bapak yang rapi, yang selalu memasukkan bajunya ke celana.

Kesialan seterusnya, ia cuma punya saya yang dikenalnya. Ia tak mengenal orang banyak itu, termasuk ibu-ibu yang sudah mulai menahan tawa dan merah padam atas bukaan celananya. Beban berat terletak di pundak saya, karena martabat sahabat saya ini tergantung pada apa keputusan saya. Jika saya mengingatkan kelalaiannya langsung di saat itu juga, ia pasti akan bunuh dari karena malu tak terkira. Tapi jika ia saya diamkan saja, saya akan menjadi orang jahat yang membiarkan aib saudara.

Saya dilanda konflik batin yang hebat. Sebuah konflik yang saya redam hingga kini. Saya tetap mengajak rekan ini berbincang seolah-olah tak ada apa-apa. Berbincang sambil berdiri, menyangkut soal politik, soal negara dan nasib bangsa. Sok sekali perbincangan kami ini. Bukan karena kami benar-benar hendak mengurus negara, melainkan agar gerombolan di sekitar kami ini muak lalu membubarkan diri.

Sampai njontor bibir saya memperpanjang perbincangan sampai orang-orang itu akhirnya bernar-benar bubar. Hari itu menjadi hari paling melelahkan dalam hidup saya demi membuat ketentraman sesama. Seseorang yang harus dibiarkan untuk tidak menyadari, kalau perlu sampai ajal menjemputnya, betapa ia telah menjadi sumber tertawaan diam-diam. Rasanya memang ada jenis kenyataan, yang tak perlu dibeberkan, demi sebuah ketentraman.
(priegs.blogspot.com)

Kecoa Telentang

TIDAK MUDAH memecahkan dilema, meski untuk soal-soal sederhana. Ini karena definisi sederhana selalu berbeda antara yang satu dan lain kepala. Sesuatu yang sederhana bagimu, bisa saja adalah soal yang rumit bagiku. Misalnya saja soal bagaimana menghadapi kecoa.
Saya belum tahu untuk apa Tuhan menciptakan kecoa. Walau saya meyakini tak ada sesuatu pun yang diciptakan untuk sia-sia, tapi sejauh ini belum pernah saya dengar apa manfaat kecoa itu untuk kehidupan manusia. Para ilmuwan harus benar-benar menjawab pertanyaan orang-orang awam seperti saya ini.

Maka sementara menunggu jawaban itu datang, kedudukan binatang ini cuma dikastakan sebatas serangga penghuni kakus dan comberan. Maka ia adalah hewan, yang begitu keluar wilayahnya apalagi berani terbang ke tempat-tempat yang keliru seperti lantai kamar bahkan nekat nyelonong ke ruang makan, ganjarannya adalah kematian. Pendek kata, di luar kakus dan comberan, tak ada hak hidup bagi serangga ini karena ia cuma wakil dari kekotoran.

Begitulah yang ada benak kita. Dan pikiran serupa itulah yang kita turunkan ke anak-anak kita. Menganggap kecoa adalah musuh adalah konvensi yang telah kita tetapkan, untuk itulah kenapa racun serangga diciptakan, dengan kecoa menjadi salah satu sasaran tembaknya. Itulah kenapa ketika di kampung saya sedang berlangsung pemberantasan nyamuk demam berdarah, kami harus menghadapi peperangan ganda. Pengasapan yang sedianya cuma untuk membunuh nyamuk itu ternyata juga membuat sumpek para kecoa.

Tanpa dikomando, kecoa seantero kampung yang merasa gerah oleh pestisida itu keluar bersama-sama. Maka juga tanpa dikomando, seluruh warga kampung mulai dari bapak-apak, ibu-ibu dan anak-anak mereka, lupa akan nyamuk mereka, karena harus bertempur dengan musuh-musuh baru. Sapu, sandal, kipas, gulungan koran, pokoknya apa saja dikerahkan untuk menumpas kecoa yang tiba-tiba berterebaran bak laron disulut cahaya itu.

Perang yang sengit, brutal dan agak tidak bermutu. Karena sebetulnya para kecoa itu tidak pernah benar-benar berniat mengibarkan perang. Mereka hanya panik berterbangan, merayap-rayap dan bergelimpangan. Tapi bagi manusia yang telah menetapkan kedudukan kecoa sebagai musuh, bahkan serangga yang panik pun dikira menghina. Maka kepadanya bisa disabetkan sandal berkali-kali sampai lumat tak tersisa.

Apalagi ketika kecoa yang limbung itu berani terbang dan nyangkut di rambut ibu-ibu pula. Wuaaa, teriakan sang ibu ini langsung memekakkan seluruh desa. Campuran dari rasa kaget, marah dan jijik sungguh menghasilkan teriakan yang histerianya belum pernah saya dengar sebelumnya.

Tetapi anggaplah perang kepada kecoa jenis ini adalah jenis yang dimaklumkan. Karena selalu ada kejahatan yang harus diperangi, ada copet yang harus ditangkap, ada koruptor yang harus diadili ada unggas yang malah harus dibakar massal sepanjang mereka membawa virus berbahaya. Selalu ada konteks yang mudah untuk menetapkan pihak lain sebagai musuh. Tapi konteks yang saya hadapi ini adalah soal yang sulit, meskipun pelakunya adalah musuh.

Hari sedang cerah, rumah sedang besih, dan hati sedang gebira. Saya tidak sedang memusuhi dan dimusuhi oleh siapapapun. Kalaupun ada kecoa di dekat tempat saya duduk di sore itu, ia juga tidak sedang mengacau keadaan. Tapi ia adalah kecoa yang sendiri dan sengsara karena entah oleh sebab apa ia tengah telentang. Tanpa perlu menjadi ahli biologi, telentang adalah sikap yang sangat ditakuti kecoa. Meskipun ia meronta-ronta sampai kiamat tiba, pasti akan selalu gagal membalikkan tubuhnya. Kecoa itu pasti cuma bisa berontak samai ajal menjemputnya.

Saya menatapnya lama sekali. Menimbang-nimbang secermat yang saya bisa. Tak peduli siapan pihak yang di depan saya, jika ia tengah meregang nyawa, adalah pemandangan yang menyiksa. Maka dengan gentar, saya mengambil alat apa saja untuk mencowel kecoa ini agar kembali ke posisinya semula, untuk kemudian saya lari terbitrit-birit, karena betapapun, saya tak ingin serangga ini mengucapkan terimakasih dengan cara terbang ke rambut saya.
(priegs.blogspot.com)

Minggu, 23 Januari 2011

Nama Tuhan di Sebuah Kuis

SEBUAH kuis televisi memberi pertanyaan sebagai berikut: apakah si anu adalah menteri tertua dalam kabinet anu. Pertanyaan ini segera membingungkan peserta kuis. Mimik kebingungannya jelas sekali. Dalam kebingungan itulah dia menenteramkan diri dengan bacaan basmallah: bismillah, dengan nama Allah.
Jika diteruskan maksud si penjawab ini tentu akan bermakna sebagai berikut: dengan nama Allah, semoga jawaban saya ini benar. Jika diteruskan lagi, jawaban itu akan bertambah menjadi: dengan nama Allah, semoga jawaban saya ini benar, meski saya ngawur. Meski ngawur yang penting nama Allah sudah saya sebut.

Karena saya percaya, Allah Maha Pengasih dan Penyayang serta Maha Pemurah. Meski saya benar-benar tidak tahu karena saya tidak cukup ilmu untuk menebak umur pak menteri ini, apalagi mendata umur semua menteri dalam kabinet, maka sebaiknya saya serahkan urusan ini langsung kepada Allah yang Maha Tahu dan Maha Melihat. Untuk itulah nama Allah perlu saya bawa-bawa dalam kuis ini. Kuis berhadiah lagi! Begitu barangkali peta bawah sadar si penjawab.

Apa hasilnya? Jawaban peserta ini, meski sudah pakai basmallah tetap saja salah. Jadi, terbukti sudah tentang sifat Maha Pengasih Allah itu dengan justru tidak mengabulkan pihak yang telah merayu-Nya sepanjang orang ini tak cukup ilmu atas sesuatu. Meski telah dibujuk, Tuhan menolak untuk bertindak tidak adil. Selamanya, kebodohan hanya membuahkan ketidaktahuan. Jika sudah bodoh masih tega membawa-bawa nama Tuhan hanya agar ia pintar mendadak, ini sungguh keterlaluan. Dan jika proses dari tidak tahu menjadi tahu cukup hanya dengan menyebut nama Tuhan, sikap ini benar-benar hendak meremehkan Tuhan yang seolah-olah gampang dibujuk dan dirayu.

Cara manusia dalam membawa-bawa nama Tuhan ini sering demikian percaya diri. Seorang petinju yang kebetulan beragam Islam, bisa demikian habis-habisan mengeksploitasi Tuhan. Ia bisa muncul dengan sajadah terbang sambil diiringi adzan. Di tengah ring ia bersyahadat, memuji Allah dan Rasulnnya. Luar biasa kecintaan petinju ini pada agamnya, tapi eee, akhirnya kalah juga.

Lagi-lagi begitu dingin cara Tuhan ini mendemonstrasikan keadilan-Nya. Tak peduli apakah nama-Nya di sebut dan dipuja-dipuji, tak peduli apakah orang berdoa secara demonstratif atau sembunyi-sembunyi, Ia tetap memberikan kemenangan bagi petinju yang lebih keras jotosannya, lebih bagus staminanya dan lehih baik tekniknya. Orang-orang yang luas ilmunya itu, lepas dari ia angkuh atau rendah hati, iman atau ingkar, tak menghalangi Tuhan untuk menepati janji-Nya dalam mengangkat derajat mereka naik beberapa tingkat. Jadi, betapa Tuhan lebih meminta manusia untuk lebih dulu mematuhi hukum-Nya ketimbang buru-buru memuja nama-Nya. Tuhan tidak ingin para hamba-Nya bersikap gampangan dan menjadi penipu. Karena ada tingkat pemujaan formal, besar sekali risiko penggampangan dan penipuan itu.

Menyebut kata Allah ribuan kali jauh lebih ''gampang'' ketimbang harus bekerja keras menafkai keluarga, menyekolahkan anak-anak, dan mendidik mereka menjadi anak-anak yang baik. Rasanya Tuhan tidak memerintahkan manusia cuma sibuk memuja-Nya tapi lupa menepati aturan-Nya. Karena pemujaan Tuhan tanpa kepatuhan atas peraturan Tuhan adalah sebuah penipuan.
(http://priegs.blogspot.com)